info,  profile

Teuku Markam, Sang Penyumbang Emas Monas Yang Kisah Hidupnya Berakhir Tragis

Siapa yang tak familiar dengan monumen nasional kebanggaan seluruh rakyat Indonesia yang satu ini? Monas! Monumen Nasional yang di atas menara tinggi menjulangnya, terpasang tangguh dan megah bongkahan emas murni berbentuk kobaran lidah api, perlambang semangat perjuangan anak bangsa yang tak akan pernah padam. Dengan berat total berjumlah tiga puluh delapan kilogram, monumen ini berdiri gagah di tengah-tengah lapangan Merdeka, Jakarta.

Monas, yang kini telah 40 tahun lamanya dibuka untuk umum, dibangun tentu bukan tanpa tujuan. Bung Karno menggagas pendirian monumen megah ini dengan keinginan untuk mengembalikan harkat dan martabat Republik Indonesia dan menunjukkan wibawanya di mata rakyat sendiri juga di mata dunia internasional. Itu pula sebabnya, bangunan ini harus berdiri kokoh di depan istana merdeka.

Sebenarnya gagasannya sendiri sudah lahir di masa awal kemerdekaan Indonesia, namun karena masih banyak konflik yang terjadi baik internal mau pun eksternal, maka rencana ini pun menjadi tertunda dan berlarut.

Barulah pada tahun 1949, saat keadaan keamanan negara mulai membaik, gagasan ini kembali digarap oleh Bung Karno. Termasuk dengan menyelenggarakan sayembara perancangan monumen hingga ke rencana pembangunannya, setelah rancangan bangunan akhirnya disetujui. Adalah  Frederich Silaban, yang muncul sebagai pemenang sayembara perancangan Monas, yang kemudian menggandeng seorang arsitek lainnya untuk menyempurnakan dan mewujudkan pembangunan monumen nasional ini.

Singkat cerita, pembangunan Monas dimulai tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1961, dan menjadi tonggak peletakan batu pertama pembangunan monumen megah ini, yang tentu saja dimonitori dengan penuh antusiasme oleh Bung Karno sendiri.

Sejarah mencatat bahwa proses pembangunan Monas berlangsung dalam dua tahap, yaitu dalam rentang waktu 1961-1965 sebagai pembangunan tahap pertama, dan rentang waktu 1969 – 1976 sebagai tahap kedua.

Sesuai keinginan untuk mengembalikan harkat dan martabat bangsa, maka Monas haruslah memiliki sesuatu yang bernilai, spektakuler dan bercahaya, juga menjadi lambang semangat perjuangan yang tak pernah padam. Maka menggunakan emas murni sebagai perwujudan kobaran lidah api yang diletakkan pada puncak ‘yoni dan lingga’ (tugu Monas) adalah niscaya.

Kobaran Lidah Api berupa 38 kg emas murni, 28 kg darinya adalah sumbangsih bagi negeri dari Teuku Markam, saudagar Aceh yang sangat mencintai NKRI.

Teuku Markam, Sang donatur dari Bumi Iskandar Muda

Ketika seorang anak bangsa begitu mencintai tanah airnya, maka apa pun akan dikorbankannya demi harkat dan martabat bangsanya. Demikian juga dengan Teuku Markam, salah seorang saudagar kaya raya asal Aceh, yang dengan rela hati menyumbangkan 28 kg emas untuk dijadikan ‘kobaran lidah api’ di puncak tugu Monas.

Tak hanya menyumbangkan emas murni untuk tugu Monas, Teuku Markam bahkan jauh sebelumnya telah berkontribusi banyak bagi negara ini, diantaranya dalam memasok peralatan perang bagi Indonesia, untuk membantu kampanye militer Trikora merebut Irian Barat.

Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa pengusaha asal Aceh yang menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar dan Surabaya ini banyak berkontribusi dalam pembangunan beberapa jalan penghubung antar kota di Jawa dan Sumatera, membeli tanah Senayan untuk digunakan sebagai area olahraga nasional dan mendukung sepenuhnya usaha kemerdekaan Irian Barat yang ingin kembali ke pangkuan RI kala itu. Beliau juga turut serta dalam upaya pemberantasan buta huruf yang dilakukan oleh Bung Karno kala itu.

Teuku Markam juga dengan rela hati merogoh keuntungan-keuntungan dari perusahaannya untuk mendanai kebutuhan finansial KTT Asia Afrika yang pernah diadakan di Indonesia.

Aih, mengetahui ini, sungguh hatiku terharu. Dan seriously, sebelum menamatkan bahan bacaan tentang sejarah perjalanan hidup Teuku Markam ini, ada bisikan di hati bahwa endingnya adalah sad ending. Dan…, ya Allah, bener banget!

Teuku Markam, Donatur yang Justru kena fitnah

.

Tak selamanya kebaikan berbuah kebaikan. Tak selamanya panen berakhir indah. Adakalanya, padi yang ditanam dan dirawat dengan telaten justru kalah oleh serangan hama. Dan ini adalah sebaik-baiknya perumpaan yang bisa aku bayangkan tentang nasib sang donatur emas Monas ini.

Sejarah mencatat, bahwa Teuku Markam, di masa orde baru justru menjadi musuh negara (baca: musuh para penguasa kala itu). Beliau bahkan difitnah terlibat dalam gerakan PKI, koruptor dan Soekarnoisme, dan tanpa menjalani pemeriksaan pengadilan, dengan semen-mena pemerintah Orde Baru menjebloskannya ke dalam penjara.

Pertama-tama Teuku Markam dimasukkan ke tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur. Selanjutnya ia dipindah ke penjara Salemba di jalan Percetakan Negara. Tak lama ia dipindahkan lagi ke tahanan Cipinang, lalu terakhir ia dipindah lagi ke tahanan Nirbaya di Pondok Gede Jakarta Timur. Pada tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Soebroto selama kurang lebih dua tahun.

Usai menjalani masa tahanan pada tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-proyek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi sayangnya, tidak ada proyek raksasa yang dikerjakan PT Marjaya yang diresmikan oleh pemerintahan Soeharto.

Nasib tak lagi berpihak padanya. Teuku Markam yang dikenal dekat dengan Bung Karno, justru dibenci dan ‘disakiti’ di masa Pak Harto. Jika dahulu orang-orang menghormati Teuku Markam luar dalam, setelah orde lama berakhir, jasa-jasa beliau kepada negeri ini pun ikut terlupakan. Di akhir hayatnya (1985), ia meninggal di Jakarta akibat penyakit komplikasi yang dideritanya berkelanjutan. Sungguh tragis. 🙁

Dan lebih tragis lagi, aku justru baru tahu bahwa penyumbang emas untuk Monas terbanyak itu (28 kg) adalah perorangan. Dulunya aku berfikir bahwa emas itu adalah sumbangan rakyat Aceh. (Rakyat = lebih dari satu orang), eh ternyata, rakyat itu adalah Teuku Markam, sang konglomerat berhati mulia yang justru kisah hidupnya berakhir tragis. Dan barusan, saat aku tunjukkan foto yang terpampang paling atas dari artikel ini, ternyata Teuku Markam ini, adalah bosnya kakek (ayah dari ibuku). Masyaallah. Kesedihan jadi semakin nyata, bergaung sendu di lubuk hatiku.

Seringkali, kebaikan tak berbuah manis. Hama yang datang menyerang, terkadang tak terhalang, walau berbagai upaya telah petani lakukan untuk membasmi serangannya.

Semoga Allah SWT memberi menerima seluruh amal ibadah almarhum Teuku Markam, mengganjarnya dengan pahala yang berlimpah, memberinya nikmat dan cahaya di alam kuburnya, dan menjadikannya husnul khatimah. Semoga Allah juga melindungi keluarga almarhum dari marabahaya, memberi mereka kemudahan-kemudahan dalam jalani kehidupan ini. Aamiin ya Rabbana.

Al, Bandung, 22 July 2019

Sumber: Wikipedia, Saibumi, Sejarah Monas,

11 Comments

  • Siti Nurjanah

    Masya Allah, bergetar aku baca kisah seorang dermawan ini. Kenapa orang yang baik seperti itu harus menerima perlakuan tak adil. Semoga di sana almarhum Teuku Markam mendapatkan tempat terindah atas segala kebaikannya semasa hidup

  • Putu Ayu Winayasari

    Aduh mbak Al, aku jadi ikut sedih bacanya, hiks… Kita itu sering begitu ya ke orang lain, memperlakukan kesalahan mereka (kalaupun memang bersalah) dengan sedemikian rupa sampe seakan hilang semua kebaikannya.

    Ada banyak pahlawan bangsa yang nasibnya begini, mbak. Termasuk yang dari Kesultanan di Kalimantan, yang adalah perancang desain Lambang Negara. Karena kesalahan (lagi2, kalaupun itu memang kesalahan –kalau bukan kan gimana gitu), maka beliau diperlakukan kurang baik dan namanya ikut tercoreng. Katanya ada usaha pemulihan namanya sih…

    Damailah jiwa-jiwa yang benar-benar berjasa dengan sepenuh ketulusan hatinya demi bangsa dan negara <3

  • lendyagasshi

    Sejarah itu memang tergantung dari mana kita mengambil sudut pandangnya dalam menilai seseorang yaa, teh…
    Semoga hanya Allah-lah yang mengganjar baik-buruknya seseorang dengan sebaik-baik perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *